Monday, 6 February 2017

TES SELEKSI UNTUK PILIHAN KARIR

BAB I
PENDAHULUAN
TES SELEKSI UNTUK PILIHAN KARIR
A.  Latar Belakang
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah diberlakukan hampir satu dekade. Demikian pula kurikulum yang digunakan oleh satuan-satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah yang ada di tanah air, yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, telah diberlakukan selama tujuh tahun. Pengembangan kurikulum 2013 diharapkan mampu menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif, melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) yang baik dalam kategori yang disebut umum maupun arah peminatan peserta didik, dimulai sedini mungkin, yaitu sejak mereka menjalani pendidikan jenjang sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyyah dan terus berlanjut pada jenjang menengah pertama dan menengah atas. Ini berarti pemilihan karir, peminatan pada siswa khususnya, perlu mendapatkan perhatian dari para guru BK atau para konselor.
Dewasa ini sudah berkembang pengukuran atau tes mengenai seleksi karir itu sendiri. Jumlah dan keragaman tes-tes standar oleh Gibson (2011: 355)dijelaskan bahwa mensyaratkan pengenalan dan kemampuan mengaplikasikan kriteria yang tepat dalam memilih tes. Banyaknya kritikan tentang pengetesan standar di sepanjang waktu yang berfokus kepada perancangan instrumen tes yang tidak optmal dan penggunaan oleh individu kurang terlatih menjadikan dua kriteria ini mutlak berlaku. Tentunya, terdapat sejumlah alasan klinis dan riset bagi ketidak percayaan kita terhadap data yang dihasilkan peranti asesmen. Namun demikian, konselor tetap dapat menggunakannya asalkan dua syarat di atas dipenuhi: tidak menggunakan tes standar yang tidak memberikan pengukuran akurat, dan tidak boleh digunakan konselor yang tidak kompeten menginterpretasikan. Sebuah kekeliruan dalam pengukuran atau interpretasi akan menghasilkan kekeliruan dalam pengambilan keputusan terkait klien.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa proses tes seleksi karir sangat penting dalam diri seorang klien sebagai gambaran kondisinya dan pertimbangan untuk pemilihan karir. Oleh karena itu guna memperoleh kejelasan mengenai tes seleksi untuk pemilihan karir dari segi kecerdasan, motivasi, bakat, dan pilihan karir, maka penulis akan mengulas makalah dengan judul”Tes Seleksi Untuk Pilihan Karir”.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pada makalah ini maka yang menjadi rumusan masalah adalah:
1.      Apa saja bentuk-bentuk tes seleksi pilihan karir pada  kecerdasan, motivasi,bakat dan pilihan karir?
2.      Bagaimanakah peranan konselor dalam mengimpelementasikan tes seleksi karir pada konseli?

C.  Tujuan
Tujuan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui apa sajakah bentuk-bentuk tes seleksi pilihan karir pada  kecerdasan, motivasi,bakat dan pilihan karir?
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah peranan konselor dalam mengimplementasikan tes seleksi karir pada konseli?
D.  Manfaat
1.      Bagi Konseli
Untuk memahami tes seleksi pilihan karir yang ada dan memantapkan diri dalam pengambilan keputusan karir.
2.      Bagi Konselor maupun Para Peneliti Lanjut
Sebagai bahan kajian mengenai tes seleksi pemilihan karir maupun bahan kajian selanjutnya tentang karir
BAB II
PEMBAHASAN
A.      Kecerdasan
Untuk mengetahui bagaimana mengungkap tes seleksi pilihan karir pada kecerdasan maka berikut akan diulas mengenai apa itu kecerdasan, jenis tes kecerdasan dan manfaatnya untuk klien pada khususnya.
1.                Pengertian
Sobur (2003:156) menjelaskan bahwa intelek adalah daya atau potensi untuk memahami, sedangkan inteligensi adalah aktivitas atau perilaku yang merupakan perwujudan dari daya atau potensi tersebut.
Walgito (2004:191) menjelaskan bahwa kecerdasan (inteligensi) berasal dari kata latin yaitu intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to behind together).
Sehubungan dengan intelegensi, ada beberapa para ahli lain yang mendefinisikan intelegensi atau kecerdasan sebagai: “Kemampuan untuk berpikir secara abstrak” (Terman); “Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula yang mendefinisikan intelegensi sebagai teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra” (Hunt).
Sehingga dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan atau daya potensi yang bersifat komprehensif, baik kemampuan berpikir secara abstrak, memproses informasi maupun kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
2.                Jenis Tes Kecerdasan
Masing-masing individu berbeda-beda dalam segi inteligensinya. Karena berbeda dalam segi inteligensinya, maka individu satu dengan individu yang lain tidak sama kemampuannya dalam memecahkan sesuatu masalah yang dihadapinya. Mengenai soal perbedaan inteligensi ini ada pandangan yang menekankan pada perbedaan kualitatif dan pandangan yang menekankan pada perbedaan kuantitatif.
Walgito (2004: 198) menjelaskan bahwa pandangan pertama berpendapat bahwa inteligensi individu satu dengan yang lain itu memang secara kualitatif berbeda, yang berarti bahwa pada dasarnya memang telah berbeda inteligeni individu satu dengan yang lain. Pandangan kedua menitikberatkan pada perbedaan kuantitatif, yang berarti perbedaan inteligeni itu semta-mata karena perbedaan materi yang diterima atau karena perbedaandalam proses belajarnya. Perbedaan dalam proses belajar akan membawa dalam segi inteligensinya.
Baik pandangan yang pertama maupun pandangan yang kedua, keduanya mengakui bahwa individu satu dengan individu lain berbeda dalam segi inteligensinya. Persoalan yang timbul ialah bagaimana orang dapat mengetahui taraf inteligensi itu.
Untuk dapat mengetahui taraf inteligensi seseorang, orang dapat menggunakan inteligensi. Dengan tes inteligensi diharapkan akan dapat mengungkap inteligensi seseorang, dan akan dapat diketahui tentang keadaan tarafnya. Orang yang dipandang sebagai pertama-tama yang menciptakan tes inteligensi adalah Binet. Berikut adalah beberapa macam tes inteligensi:
a)      Binet
Tes inteligensi Binet disusun pertama kali tahun 1905 yang kemudian mendapatkan bermacam-macam revisi baik dari Binet sendiri maupun dari para ahli yang lain. Tes yang disusun dalam tahun 1905 itu kemudian direvisi oleh Binet sendiri pada tahun 1908 sebagai revisi pertama, dan pada tahun1911 diadakan revisi lagi sebagai revisi yang kedua.
Tahun 1916 tes Binet direvisi, dan diadaptasi disesuaikan penggunaannya di Amerika yang dikenal dengan revisi Terman dari Stanford University dan dikenal dengan Stanford Revsion, juga dikenal dengan tes Inteligensi Stanford-Binet. Terman membakukan pemberian tes dan mengembangkan norma tingkat usia, dengan memberikan tes kepada ribuan anak. Tes Binet ini kemudian dikenal dengan nama Stanford Binet Scale direvisi lagi tahun 1937, 1960, 1972, dan terakhir pada tahun 1986. Di samping itu juga digunakan pengertian Intelligence Quotient atau disingkat IQ. Indeks ini mengekspresikan inteligensi sebagai rasio usia mental (MA) terhadap usia kronologis (CA).
                              IQ=(MA:CA)X 100
100 digunakan sebagai pengali, sehingga IQ memiliki nilai 100 jika MA sama dengan CA. Jika MA lebih rendah dari CA maka IQ lebih kecil dari 100, jika MA lebih tnggi dari CA, maka IQ lebih tinggi dari 100.
Gibson (2011:359) menjelaskan bahwa tes tersebut masih tetap populer sampai sekarang, bahkan dengan revisi terbarunya adalah edisi kelima (2003) yang bisa digunakan untuk individu berusia 2 sampai 85 tahun.  Berikut adalah contoh tipikal soal stanford binet intelligence Scale revisi 1986, untuk anak usia 6 sampai 8 tahun:
(1)   Penalaran verbal
Contoh:mendefinisikan kata, menjawab pertanyaan,dan lain-lain.
(2)   Penalaran kuantitatif
Contoh: melakukan hitung aritmatika sederhana, mengurutkan angka, atau membentuk persamaan
(3)   Penalaran abstrak/visual
Contoh: analisis pola, mencontoh gambar
(4)   Memori jangka pendek
Contoh:megingat bentuk, mengingat kalimat,megingat benda
b)      Wechler
Seiring berkembang dengan pesatnya tes inteligensi, dalam tahun 1939 David Wechsler (ahli psikologi klinis) menciptakan individual intelligence test,yang dikenal dengan Wechler Bullevue Intelligence test yang dikenal dengan tes inteligensi WB. Dalam tahun 1949 diciptakann tes Wechsler Intelligence for Children atau sering dikenal dengan tes inteligensi WISC,yang khusus diperuntukkan anak-anak. Klasifikasi IQ-nya adalah:

Very superior
IQ di atas 130
Superior
IQ 120- 129
Bright Normal
IQ 110 - 119
Average
IQ 90 - 109
Dull Normal
IQ 80 - 89
Borderline
IQ 70 - 79
Mental defective
IQ 69 dan ke bawah
Tabel 2.1 Klasifikasi IQ Wechsler
Pada tahun 1955 Wechsler menciptakan tes inteligensi untuk orang dewasa yang dikenal dengan Wechsler Adult Intelligence Scale atau yang dikenal dengan tes intelegensi WAIS.
Wechsler mengembangkan tiga perangkat instrumen kecerdasan yang mirip pendekatannya namun diperuntukkan bagi kelompok usia yang berbeda-beda. Gibson (2011:360) menyebutkan jenis-jenis tes itu adalah WPPSI-III, WISC-IV, WAIS-III. Karena kemiripan semua instrumen kecerdasan Wechsler, maka informasi tentang WAIS-III berikut dapat dianggap menggambarkan kerangka umum penskoran WPPSI-III, dan WISC-IV, meski ada juga sejumlah perbedaan kecil di antara ketiganya seperti uraian berikut:
-          Verbal Comprehension Index: mengukur perhatian verbal, konsentrasidan kecepatan pemrosesan, mengandung subtes seperti kosakata, padanan kata, informasi dan pemahaman.
-          Perceptual Organization Index: mengukur kemampuan persepsi visual dan koordinasi tangan-mata,meliputi subtes seperti rncangan balok, penalaran matriks,penyelesaian gambar, dan sebagainya.
-          Working Memory Index: mengukur kemampuan individu memproses informasi dan penggunaan aktif informasi yang masuk.
-          Processing Speed Index: mengukur kecepatan mental dan motorik dan kemapuan untk mengorganisasikan, merencanakan dan mengimplementasikan strategiyang tepat.
Walgito (2004:202) menambahkan lebih lanjut bahwa tes WAIS pada dasarnya merupakan tes intelegensi ndividual dengan menggunakan bermacam-macam tugas. Sub tes dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu yang verbal dan yang performance. Bagaimana bentuk sub tes dari WAIS dapat dilihat pada tabel berikut:

Verbal subtest
Performance subtest
Information
Picture arangement
General comprehension
Ppicture completion
Memory span
Block design
Arithmetic reasoning
Object assembly
Similarities
Digit symbol (coding)
Vocabulary
Tabel 2.2 subtes WAIS
B.       Motivasi
  1. Pengertian
Walgito (2004:220) menjelaskan bahwa motivasi berasal dari kata motif. Sedangkan motif bersal dari bahasa Latin movere yang diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force.
Motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait menkait dengan faktor-faktor lain. Hal-hal yang dapat mempengaruhi motif disebut motivasi. Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.
  1. Tes Motivasi
Nathan dan Hill (2012:143-144)menjelaskan bahwa pada sebagian kuesioner yang ada bersifat “normatif”, artinya “skor” klien dibandingkan dengan populasi secara umum atau dengan populasi tertentu. Sebagai contoh, respon-respon seseorang mungkin menunjukkan kesukaan yang lebih besar untuk berhubungan dengan orang-orang dibanding mayoritas populasi.
Menurut Nathan minat dan motivasi saling berkaitan. Dan untuk menumbuhkan minat itu perlu adannya dorongan atau rewarding sebagai salah satu kunci vital yang memotivasi seseorang. Kemampuan semata tidak banyak berguna tanpa minat yang adekuat untuk mendukungnya.
Konselor karir dapat membantu klien mengases minatnya dengan menggunakan beberapa pertanyaan berikut:
-          Mata pelajaran apa yang paling Anda sukai di sekolah?
-          Pekerjaan/aspek-aspek pekerjaan yang mana yang paling Anda nikmati?
-          Apa kegiatan ekstrakurikuler yang Anda ikuti dengan senang hati?
-          Apa hobi, minat dan kegiatan yang Anda nikmati pada waktu luang?
-          Dan lain-lain.
C.      Bakat
Tes-tes ini memiliki data normatif, artinya data itu telah diuji pada sebuah populasi random atau representatif yang mengerjakan tes tersebut. Sebagai contoh, salah satu tes yang digunakan memiliki sebuah kelompok pembanding “populasi secara umum” dan tes untuk tingkat manajerial dan profesional:. Jika menggunakan tes untuk orang-orang yang lebih muda, mungkin tepat guna untuk menggunakan kelompok pembanding yang sama dengan tingkat pendidikan individu yang bersangkutan. Dari pengalaman kami di bidang konseling karier, kelompok “populasi secara umum” biasanya sudah cukup ketika menggunakan sebuah tes bakat diferensial, karena ini memungkinkan kapasitas-kapasitas alamiah individu untuk ditunjukkan, melalui perbedaan, bukan hanya tingkat, yang dicapai. Kinerja Aperson pada tes dibandingkan dengan kinerja orang lain, dan sebuah profil dihasilkan dari berbagai kekuatan dan kelemahan relatif. Bidang-bidang yang lazim diukur termasuk penalaran abstrak, verbal, dan numerik. (Nathan, 2012: 141)
Tes-tes tersebut harus:
1.      Valid, sebuah tes harus mengukur apa yang dimaksud untuk diukur. Tipe-tipe utama validitas termasuk:
a)      Validitas isi, yang berhubungan dengan seberapa baik hubungan antara sebuah tes dan perilaku. Jika tes mengatakan bahwa ia mengukur bakat, maka ia seharusnya tidak memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang mengukur prestasi.
b)      Validitas konstrak, yaitu sejauh mana tes mengukur sebuah konstrak teoritik seperti misalnya kemampuan verbal dan
c)      Validitas prediktif, yang mempertimbangkan sejauh mana sebuah tes dapat dianggap memprediksi kualitas yang diukur, dan
2.      Reliabel, tes seharusnya memberikan indikasi yang cukup konsisten tentang sebuah kemampuan dari waktu ke waktu.
Jadi, jika sekelompok orang mengerjakan tes yang sama dua kali, setelah selang waktu yang wajar hasil-hasilnya identik atau nyaris identik, maka kemungkinan tes tersebut realibel.
Setiap tes seharusnya disertai dengan manual, yang mendeskripsikan tentang penelitian yang dilakukan dan memberikan angka-angka untuk realibilitas dan validitas, dan detail-detail tentang populasi-populasi yang dijadikan dasar standarisasinya. Aspek-aspek teknis konstruksi tes dibahas lengkap oleh Anastasi (1988).
Sebuah tes bakat diferensial dapat membantu menjawab jenis-jenis pertanyaan berikut:
1)      Apakah klien belajar lebih baik “sambil bekerja” atau melalui sarana yang lebih akademik?
2)      Apakah klien memiliki potensi yang lebih kuat untuk bekerja dengan angka-angka atau dengan kata-kata?
3)      Seberapa cepatkah klien dalam berfikir mandiri?
4)      Apakah klien lebih mampu menyelesaikan masalah dengan menangkap “keseluruhannya” atau dengan mengeksplorasi detail-detailnya?

Sementara dibuku yang lain yang membahas tentang bakat menjelaskan bahwa semula tes bakat mengukur keterampilan, kecakapan, atau kemampuan khusus yang dibutuhkan suatu kecakapan tertentu (Super & Crites, 1962; Cronbach, 1984). Lebih spesifik lagi, skor tes bakat menyediakan indeks asesmen keterampilan yang memprediksi atau pengindikasian bagaimana performa seseorang atas suatu vokasional dan atau program pelatihan. Sebagai tambahan, tes ini mengindikasi kekuatan atau kelemahan kognitif individu. Sebagai contoh asesmen skolastik menjelaskan prediksi keberhasilan program pendidikan. Skor tes bakat menyediakan indeks kemampuan klerikal.
Tes bakat diperoleh sebagai baterai asesmen sejumlah bakat dan keterampilan atau sebagai tes tunggal yang mengukur bakat khusus. Kombinasi skor baterai memprediksi kriteria pendidikan dan pelatihan tertentu sebagus kriteria performa atas vokasional tertentu yang membutuhkan kombinasi skolastik. Sebagai contoh baterai bakat adalah General Aptitude Test Battrai (GATB). Tes ini dikembangkan oleh Employment Service bagi konselor pekerjaan, GATB mengukur sembilan bakat: intelligence, verbal, numerical, spatial, form perception, clerical perception, motor coordination, finger dexterity, dan manual dexterity.
Tes bakat lain diterbitkan sebagai buklet tes tunggal yang mengukur keluasan keterampilan khusus termasuk ketangkasan, mekanik komprehensif, bakat vokasional, bakat klerikal, penalaran design, bakat seni, dan bakat musik.
Meskipun tes bakat pada awalnya menjadi dasr prediksi kesuksesan dalam suatu vokasional atau program pelatihan, juga digunakan sebagai alat konseling untuk eksplorasi karier. Dalam pendekatan ini, asesmen ciri individual yang merupakan kerangka bagus untuk mengevaluasi potensi karir. (Uman, 2013: 100)
Contoh batterai tes bakat majemuk representatif yang pernah dan sering digunakan di berbagai negara antara lain sebagai berikut.
The Differential Aptitude Test (DAT). Tes ini terdiri dari delapan subtes: verbal reasoning, numerical ability, abstract reasoning, space relations, mechanical reasoning, clerical speed and accuracy, spelling, dan language usage. Pada awanya batterai ini dirancang untuk siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi. Saat skor verbal dan numeric dikombinasikan, terbentuk bakat skolastik. Subtes lain digunakan untuk perencanaan vokasional dan pendidikan.
The General Aptitude Test Battrai (GATB). Batterai ini merupakan komposisi atas delapan paper and pencil test dan empat tes apparatus. Sembilan kemampuan diukur oleh 12 tes: intelligence, verbal, numerical, spatial, form perception, clerical perception, motor coordination, finger dexterity, dan manual dexterity. Tes ini diputuskan untuk siswa SMA dan orang dewasa. Waktu tes 2,5 jam. Hasil tes digunakan untuk konseling vokasional, pendidikan, dan penempatan.
Flanagan Aptitude Classification Test (FACT). Tes ini terdiri dari 16 subtes: inspection, coding, memory, precision, assembly, scales, coordination, judgement/ comprehension, arithmetic, patterns, components, tables, mechanics, expression, resoning, and ingenuity. Masing-masing tes mengukur pertimbangan perilaku kritis terhadap performa pekerjaan. Diputuskan memilih kelompok seleksi. Keseluruhan aspek tes memerlukan waktu beberapa jam. Awalnya tes ini dirancang untuk siswa sekolah menengah dan orang dewasa.
Army Services Vocational Aptitude Battrai (ASVAB). Tes ini terdiri dari 12 subjek: general informations, numerical operations, attentions to detail, work knowledge, arithmetic reasoning, space perception, mathematics knowledge, electronic information, mechanical comprehension, general science, shop information, and automotive information. Total waktu tes 180 menit. Tes dirancang untuk konseling karir dalam melayani tentara tapi dapat juga digunakan untuk konseling karir secara umum. (Uman, 2013: 101)

D.                Pilihan Karir
Asesmen perbedaan individu digunaka untuk menilai konseli dalam mmbuat keputusan karir. Instrumen tersebut menilai isi (contents) yang bermacam-macam (seperti minat, nilai-nilai) yang menunjukkan adanya hubungan dalam pilihan karir. Fokus pandangan sekarang tentang instrumen adalah untuk pengukuran konselidalam proses pembuatan keputusan karir. Tipikal pengukuran dari variabel-variabel proses karir adalah level keputusan atau kepastian dan level kematangan karir.
1.      Pembuatan keputusan karir (career decision making)
Pembuatan keputusan karir sering dapat membantu dalam konseling karir yang mengindikasikan posisi konseli, apakah berada dalam kputusan arir atau ketidakmampuan membuat keputusan karir. Intervensi konselor adalah menyeleksi keinginan yang mungkin berbeda atara konseli yang mampu membuat keputusan karier dengan konseli yang tidak mampu membuat keputusan karir.
Instrumen yang secara luas digunakan dalam wilayah ini adalah the Career Decision Scale (CDS, Osipow, 1987). CDS ini terdiri dari dua bagaian, bagian pertama terdiri dari 19 item untuk mengukur level perasaan tertentu pada individu dalam membuat keputusan karir. Selanjutnya, 16 item mengukur level dari ketidakmampuan dalam membuat keputusan karir.
2.      Kematangan Karir (Career Maturity)
Kematangan karir merupakan tema sentral dalam teori perkembangan karir masa hidup (life span career development) yang dicetuskan oleh Super. Super memperkenalkan dan mempopulerkan konsep tentang kematangan karier setelah penelitiannya tentang pola karier ditahun 1950-an.
Kematangan karir juga didefinisikan sebagai kesesuaian antara perilaku karir individu dengan perilaku karir yang diharapkan pada usia tertentu di setaip tahap.
Dapat dimaknai bahwa kematangan karir remaja dapat diukur dan memiliki indikator-indikator kematangan karir sebagai berikut:
a)      Aspek perencanaan karir
b)      Aspek eksplorasi karir
c)      Pengetahuan tentang membuat keputusan karir
d)     Pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja.
e)      Aspek pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai
f)       Aspek Realisme keputusan karir
g)      Orientasi karir. (Uman, 2013: 115)


BAB III
PENUTUP

  1. SIMPULAN

Tugas konselor adalah membantu klien untuk memajukan pemahaman diri, didukung dengan adanya data-data testing pribadi klien. Terlebih ketika melakukan seleksi pemilihan karir maka berbagai macam aspek perlu dipertimbangkan dengan harapan agar klien tidak salah dalam mengambil keputusan. Tes seleksi untuk pilihan karir dalam hal ini dibagi menjadi tes kecerdasan, tes motivasi, tes bakat, dan pilihan karir.

  1. SARAN
1.      Bagi Konseli
Hendaknya melakukan pengambilan keputusan karir dengan selektif dan sesuai dengan bakat minat yang dimiliki.
2.      Bagi Konselor maupun Para Peneliti Lanjut
Hendaknya dalam melaksanakan asesmen pemilihan karir konseli,mempertimbangkan berbagai macam faktor.


DAFTAR PUSTAKA


ABKIN. 2013. Panduan Khusus Bimbingan dan Konseling Pelayanan Arah Peminatan Peserta Didik. Jakarta: ABKIN

Gibson, Robert L.. 2011. Bimbingan dan Konseling Edisi Ketujuh. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Nathan, Robert dan Linda Hill. 2012. Konseling Karir Edisi Kedua. Yogyakarta :  Pustaka Pelajar

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling (Studi dan Karir). Yogyakarta: Penerbit ANDI

------------------. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Penerbit ANDI

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Suherman, Uman. 2013. Bimbingan dan Konseling Karir. Bandung: Rizqi Press.

nafi ahmed write


TEORI PENDEKATAN KARIR KOGNISI, KONSTRUKTIVISME, EKONOMI, KOMPROMI, BELAJAR SOSIAL, DAN KEPRIBADIAN

BAB I
PENDAHULUAN
TEORI PENDEKATAN KARIR
KOGNISI, KONSTRUKTIVISME, EKONOMI,
KOMPROMI, BELAJAR SOSIAL, DAN KEPRIBADIAN

A.    Latar Belakang Masalah
Setiap manusia berharap memiliki sebuah karir yang gemilang dalam hidupnya. Tak ada seorangpun yang mengharapkan akan menuai kegagalan karir. Dalam hal ini manusia untuk memilih karir yang sesuai dengan minat, bakat, potensi dan kepribadiannya tidaklah mudah. Ada yang berminat terhadap bidang pekerjaan teknik misalnya, tapi mendapatkan pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan minatnya. Ada yang berpotensi untuk menggeluti karirnya sebagai guru akan tetapi tidak berminat jadi guru. Ada yang berminat dan memiliki keterampilan akan tetapi tidak didukung dengan kepribadian yang memadai. Oleh karenanya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, potensi yaang sejalan dengan karakter kepribadiannya manusia perlu memahami berbagai teori karir yang ada.
Sejalan dengan pemikiran di atas maka dapat disimpulkan bahwa serangkaian teori pendekatan karir yang ada perlu konselor pahami dalam aplikasinya untuk memeberikan layanan bimbingan dan konseling karir yang efektif. Dimana output dari sekolah yang dibina masing-masing konselor mampu menjadi outcome bagi pengguna mereka dengan kualitas yang diharapkan masyarakat. Misalnya saja dalam penmgambilan keputusan terkait dengan jurusan. Masih banyak ditemui siswa yang salah ambil jurusan bahkan salah masuk perguruan tinggi. Dalam ranah ini konselor harus memberikan intervensi yang tepat guna membantu siswa agar tidak sampai salah pilih terkait dengan jurusan maupun perguruan tinggi yang akan dia masuki. Masih banyak contoh lainnya yang menngambarkan bahwa individu gagal dalam karir karena tidak tahu bagaimana memilih arah pilih karir yang sesuai dengan minat, bakat, potensi dan kepribadiannya.
Maka dari itu dalam penyusunan makalah ini penyusun akan mencoba memaparkan beberapa teori endekatan karir yakni dalah teori pendekatan karir kognisi, konstruktivisme, ekonomi, kompromi, belajar sosial, dan kepribadian.


B.     Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas maka dapat diketahui bahwa rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir kognisi?
2.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir konstruktivisme?
3.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir ekonomi?
4.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir kompromi?
5.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir belajar sosial?
6.      Bagaimana konsep teori pendekatan karir kepribadian?

C.    Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas dapat diketahui tujuan penyususnan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk memahami teori pendekatan karir kognisi
2.      Untuk memahami teori pendekatan karir konstruktivisme
3.      Untuk memahami teori pendekatan karir ekonomi
4.      Untuk memahami teori pendekatan karir kompromi
5.      Untuk memahami teori pendekatan karir belajar sosial
6.      Untuk memahami teori pendekatan karir kepribadian


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Kognitif Sosial dalam Glading, 415
Teori karir kognitif sosial –social cognitive career theory (SCCT)- pertama kali dipublikasikan pada tahun 1994 dan telah memberikan dampak yang besar pada penelitian terkait masalah pemilihan karir (Glading, 2011:415. Landasan utama untuk pendekatan ini terletak di teori kognitif sosial Bandura (1986) yang umum yang menekankan cara kompleks di mana perilaku dan lingkungan saling mempengaruhi satu sama lain. Mengambil isyarat dari teori Bandura's, SCCT menyoroti kapasitas orang untuk mengarahkan perilaku karier mereka sendiri tapi juga mengakui pengaruh lingkungan (misalnya, hambatan dan dukungan socio structural, budaya, cacat status) yang berfungsi untuk memperkuat, memperlemah, atau, dalam beberapa kasus, bahkan mengesampingkan manusia dalam pengembangan karir.
Teori Kognitif Sosial Karir (SCCT; Lent, Brown, & Hackett, 1994) adalah pendekatan baru untuk memahami teka-teki karir. Hal ini dimaksudkan untuk menawarkan pemersatu kerangka kerja untuk menyatukan potongan umum, atau unsur-unsur, yang sebelumnya diidentifikasi oleh teoretisi karir, seperti Super, Holland, Krumboltz, dan Lofquist dan Dawis-dan mengatur mereka dalam sebuah novel render bagaimana orang (1) mengembangkan kepentingan kejuruan, (2) membuat (dan membuat kembali) pilihan pekerjaan, dan (3) mencapai berbagai tingkat keberhasilan dan stabilitas karir.
Proposisi dari SCCT yang paling utama adalah sebagai berikut (Glading, 2011:415):
1.      Interaksi antara orang dan lingkungannya sengatlah dinamis. Misalnya mereka saling memengaruhi
2.      Perilaku yang berhubungan dengan karir dipengaruhi oleh empat aspek dari seseorang perilaku, efisiensi diri, hasil yang diharapkan, dan tujuan selain karakteristik yang ditentukan secara genetik.
3.      Keyakinan akan efisiensi diri dan hasil yang diharapkan berinteraksi secara langsung untuk memengaruhi perkembangan minat.
4.      Sebagai tambahan dari hasil yang diharapkan, faktor-faktor seperti jenis kelamin, ras, kesehatan fisik, kecacatan, dan variabel lingkungan mempegaruhi perkembangan efisiensi diri.
5.      Pilihan karir aktual dan penerapannya dipengaruhi oleh sejumlah variabel yang langsung dan tidak langsung selain efisiensi diri, harapan, dan tujuan. Misalnya, diskriminasi, variabel ekonomi dan kesempatan yang terjadi.
Asumsi penting dari SCCT adalah “efisiensi diri dan minat saling berhubungan”. Efektivitas diri mungkin merupakan faktor penentu berpengaruh lebih dalam banyak situasi bahwa panggilan untuk keterampilan yang kompleks atau berpotensi mahal atau program sulit tindakan (misalnya, apakah untuk mengejar karir medis). Dalam situasi seperti itu, orang dapat terus positif hasil harapan (misalnya, "Sebuah karir medis dapat menyebabkan hadiah menarik"), tetapi menghindari pilihan atau tindakan jika mereka meragukan mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil pada itu (dengan kata lain, di mana efektivitas diri rendah).

B.     Teori Ekonomi
1.      Teori Ekonomi dari Buku Gibson, Mitchell. Hal. 467
Sudah lama teori-teori ekonomi menekankan pentingnya faktor-faktor ekonomi dalam pilihan karir. Yang paling mencolok adalah konsep yang menyatakan bahwa ketersediaan jenis pekerjaan versus ketersediaan pekerja yang terkualifikasi bagi pekerjaan ini. Selain itu, seperti yang banyak disuarakan penelitian ekonomi, salah satu faktor utama dalam pemilihan karir adalah “Apakah jenis pekerjaan yang bisa saya peroleh?” Dalam kasus semacam ini, pertimbangan yang paling penting adalah kesanggupan menyediakan minimal kebutuhan dasar bagi dirinya dan keluarga. Keamanan kerja juga menjadi pertimbangan penting dalam pilihan karir di tahun 1990-an dan sesudahnya, dan keuntungan pekerja khususnya asuransi kesehatan dan rencana pensiun, bisa juga menjadi faktor seseorang mencari pekerjaan tertentu.
Kita semua tahu pernah mengalami situasi yang di dalamnya kebetulan telah mengakibatkan perubahan kita mengalami rencana, aktivitas bahkan pilihan karir. Bandura (1982) juga menitikberatkan pentingnya perjumpaan-perjumpaan yang kebetulan (chance encounters) bagi pembentukan arah hidup individu. Teori pengambilan keputusan, bagaimana pun, memiliki akar-akarnya di bidang ekonomi dan mengimplikasikan kalau karir dipilih dari sejumlah alternatif berdasarkan pilihan mana yang dapat menjanjikan penghargaan atau nilai tertinggi bagi inidividu (jadi bukan melulu dalam pengertian keuntungan uang).

2.      Teori Sosial Ekonomi, Bpk. Uman Suherman. Hal. 56
Menurut Sharf (1992) dalam Uman (2013:56) mengklasifikasikan teori sosial ekonomi terbagi menjadi tiga bagian, yaitu teori pencapaian status (status attainment theory), teori modal manusia (human capital theory), dan teori ekonomi rangkap (dual economy theory). Ahli lain seperti Paulston menambahkan teori fungsi (functional theory), dan teori gerakan masyarakat (social movement theory). Berikut penjabarannya:
a.         Teori Pencapaian Status (Status Attainment Theory)
Teori ini menyangkut peranan prestasi dan status sosial keluarga dalam mempengaruhi pemilihan pekerjaan. Kebanyakan penelitian tentang teori pencapaian status meneliti perubahan antar generasi yang kadangkala disebut mobilitas vertikal, dan memusatkan perhatiannya dalam memprediksi peranan pekerjaan seseorang dari pekerjaan ayahnya. Hal tersebut berdasarkan kepada beragam catatan yang sebelumnya sudah dilakukan. Para peneliti di bidang ini menemukan bahwa mereka dapat memprediksikan status sosial ekonomi dari pekerjaan pertama seseorang, yang kemudian dapat memprediksikan pekerjaan saat ini, dari pendidikan dan pekerjaan ayahnya.
Analog dengan pernyataan tersebut, Okiishi (1987) berusaha mengembangkan genogram dalam konseling karir. Okiishi berasumsi bahwa ada pengaruh dari orang lain yang berarti (significant other), baik orangtua maupun orang lain di sekitarnya terhadap individu dalam perencanaan dan pemilihan karir. Artinya, terdapat pengaruh lingkungan (pembelajaran sosial) dalam pengambilan keputusan karir individu.
Teori pencapaian status menyebut perhatian sebagai variabel penting yang cenderung diabaikan oleh teori-teori psikologis. Dari teori-teori yang didiskusikan, hanya teori Gottfredson (Sharf, 1992) yang berhubungan langsung dengan variabel sosiologis dari teori perkembangan karir. Teori pencapaian status menekankan pentingnya prestise, status keluarga, dan doroongan mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Meskipun Amerika Serikat dianggap sebagai lahan yang luas untuk memperoleh kesempatan yang sama, teori pencapaian status mengatakan bahwa dalam kenyataannya, posisi pekerjaan seseorang ke tingkat yang lebih luas ditentukan oleh keluarganya (dan khusunya lagi oleh pekerjaan ayahnya). Pengetahuan ini barangkali membantu berfikir konselor yang bekerja dengan konseli dari tingkat sosio-ekonomi rendah tentang beberapa faktor yang diperlukan untuk mencapai status pekerjaan yang lebih tinggi daripada pekerjaan ayah konselinya.
Salah satu faktor yang berhubungan dengan status adalah tingkat dorongan orang tua untuk berhasil. Remaja dari tingkat sosio-ekonomi rendah barangkali kekurangan dorongan dari orangtua, teman, dan guru untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Lebih jauh, latar belakang ini menghambat cita-cita dalam pekerjaan.
b.      Teori Modal Manusia (Human Capital Theory)
Teori modal manusia memiliki asumsi dasar bahwa manusia merupakan sumber daya utama sebagai subjek baik dalam upaya meningkatkan taraf hidup dirinya maupun dalam melestarikan dan memanfaatkan lingkungannya. Menurut teori ini konsep-konsep pendidikan dan karir harus didasarkan atas asumsi bahwa modal yang dimiliki manusia itu terdapat dalam diri manusia itu sendiri. Modal itu meliputi sikap, pengetahuan, keterampilan, dan aspirasi. Artinya modal utama bagi manusia itu ada dalam dirinya sendiri dan modal yang paling utama adalah pendidikan dan pelatihan (termasuk pendidikan dan pelatihan karir). Aktualisasi modal yang terdapat di dalam diri manusia itu memerlukan masukan lain dari luar dirinya sebagai sumber daya alam, lapangan kerja, dunia usaha, dana dan informasi.
Individu berinvestasi dalam pendidikan dan pelatihan agar dapat menerima penambahan penghasilan. Penghasilan tetap dipandang sebagai suatu manfaat dari keahlian, pendidikan, dan pelatihan, digabungkan dengan usaha berproduksi secara efektif. Pendidikan dipandang sebagai investasi yang ketika digabungkan dengan pengalaman kerja yang tepat, akan menghasilkan pendapatan yang diinginkan. Seseorang (dan keluarganya) menginvestasikan uang untuk kuliah atau pendidikan lainnya pada titik awal dalam karirnya. Investasi ini direalisasikan beberapa tahun kemudian ketika dia mulai memperoleh gaji dari pekerjaannya. Perbedaan dalam pilihan dan keahlian individu akan mengahasilkan pendapatan yang berbeda pula.
Dalam teori modal manusia, agaknya individu dipandang seperti sebuah firma atau perusahaan: jika perawatan kesehatan dan biaya pindahan akan membantu memperoleh penghasilan besar, maka biaya pendidikan misalnya, dapat dipandang sebagai investasi dalam penghasilan akhir seumur hidup seseorang.
c.       Teori Ekonomi Rangkap (Dual Economy Theory)
Teori ekonomi rangkap menganggap bahwa semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Sosiolog dan psikolog sudah lama menyadari hal ini tidak benar. Terutama kelompok yang kurang mampu dan dirugikan cenderung memasuki jenis-jenis pekerjaan yang berbeda dari kalangan atas. Teori ekonomi rangkap dua mengklasifikasikan baik perusahaan maupun pasar tenaga kerja dalam dua kelompok: primer (inti) dan sekunder (sekeliling). Meskipun semula digunakan untuk menggambarkan dua jenis perbedaan besar dalam pasar tenaga kerja, teori dualistik secara berangsur-angsur dikembangkan ke dalam suatu ragam yang tak terpisahkan dari pasar tenaga kerja.
Semula, majikan utama dipandang sebagai pemegang tugas sekunder sistem deretan bertingkat yang dikemukan oleh Piore dan kawan-kawan. Dalam penelitiannya, dia menemukan bahwa pegawai remaja di pasar tenaga kerja sekunder cenderung bekerja dalama eceran keci atau dikontrak perusahaan. Perusahaan-perusahaan tersebut cenderung mengembangkan reputasi sebagai penyewaan anak-anak muda. Para remaja sering mendengar tentang lowongan pekerjaan di bidang ini melalui teman-teman mereka. Sebaliknya, pekerjaan yang ada di perusahaan primer datangnya kebanyakan lebih sering melalui keluarga yang bekerja di perusahaan primer daripada melalui teman-temannya.
d.      Teori Fungsi (Functional Theory)
Teori fungsi menekankan tentang pentingnya hubungan yang erat antara pendidikan (dan karir) dengan pengembangan sosial ekonomi. Teori ini memberikan makna bahwa pendidikan ialah upaya sadar untuk menumbuhkan dan mengembangkan mekanisme keseimbangan antara pelestarian nilai-nilai budaya, kesatuan masyarakat, kestabilan ideologi, dan perkembangan ekonoi dalam suatu kesatuan wilayah.

e.       Teori Gerakan Masyarakat (Social Movement Theory)
Teori gerakan masyarakat berkaitan dengan upaya masyarakat baik dalam memecahkan masalah yang dihadapi individu maupun dalam memajukan taraf hidup masyarakat. Teori ini lebih memberikan tekanan pada peranan pendidikan sebagai bagian penting dalam ggerakan pembangunan masyarakat. Program-program pendidikan disusun atas dasar kebutuhan yang dirasakan dan dinyatakan oleh masyarakat.
Program-program pendidikan dirancang dan dilaksanakan secara terpadu dengan program-program lainnya dalam gerakan pembangunan masyarakat. Fungsi pendidikan adalah untuk memotivasi individu dan masyarakat dalam mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan, aspirasi, dan untuk meningkatkan kemampuan berpartisipasi dalam upaya bersama guna meningkatkan taraf hidup dan kehidupan masyarakat.

C.    Teori konstruksi dari buku Career Development and Counseling, hal. 42
Teori konstruksi karir menjelaskan interpretif dan interpersonal proses melalui mana individu-individu memaksakan makna dan perilaku directionon kejuruan mereka. Teori pembaruan dan kemajuan Super's (1957)  teori pembangunan kejuruan untuk digunakan dalam ekonomi global sosial multikultural. Ini menggabungkan ide-ide inovatif super ke dalam sebuah visi kontemporer karir dengan menggunakan konstruksionisme sosial sebagai konsep teori pembangunan pusat kejuruan. Dalam melihat konsep-konsep tradisional sebagai proses yang memiliki kemungkinan, melihatnya sebagai realitas yang memprediksi masa depan.
Teori konstruksi karir menggabungkan ketiga mewakili perspektif-apa, bagaimana, dan mengapa kejuruan perilaku-bawah rubrik jenis kejuruan kepribadian, kemampuan adaptasi karir, dan tema kehidupan. Teori konstruksi karir tentang bagaimana karir dunia dilakukan melalui konstruktivisme pribadi dan konstruksionisme sosial. Hal ini menegaskan bahwa kita mengkonstruksi representasi dari realitas, tapi kita tidak membangun realitas itu sendiri. Selanjutnya, teori pandangan karier dari perspektif kontekstualis, yang melihat pembangunan sebagai didorong oleh adaptasi terhadap lingkungan dan bukan oleh kematangan struktur batin. Melihat karir dari perspektif kontekstual konstruksionis dan memfokuskan perhatian pada proses interpretatif, interaksi sosial, dan negosiasi makna. Karir tidak terungkap, mereka dibangun sebagai individu membuat pilihan yang mengekspresikan diri mereka-konsep dan memperkuat tujuan mereka dalam realitas sosial dari peran bekerja.
 Karir konstruksi teori, hanya menyatakan, menyatakan bahwa individu membangun karier mereka dengan memberikan makna pada perilaku kejuruan dan pengalaman kerja. Sedangkan definisi tujuan karir menunjukkan urutan posisi yang diduduki oleh orang dari sekolah melalui pensiun, definisi subjektif yang digunakan dalam teori karir konstruksi bukanlah jumlah pengalaman kerja melainkan pola ini pengalaman menjadi satu kesatuan yang kohesif yang menghasilkan bermakna cerita. Sini, karir menunjukkan sebuah konstruksi subjektif yang menetapkan makna pribadi pada kenangan masa lalu, pengalaman sekarang, dan masa depan aspirasi oleh tenun mereka ke dalam tema kehidupan bahwa kehidupan pola-pola kerja individu. Jadi karir subjektif yang membimbing, mengatur, dan memelihara perilaku kejuruan muncul dari sebuah proses aktif pembuatan makna, tidak menemukan preexistingfacts. Ini terdiri dari refleksivitas discursively biografi yang diproduksi dan dibuat "nyata" melalui perilaku kejuruan.
Dalam karir bercerita tentang pengalaman kerja mereka, individu-individu secara selektif menyoroti pengalaman tertentu untuk menghasilkan suatu kebenaran naratif oleh dimana mereka tinggal. Konselor karir yang menggunakan teori konstruksi mendengarkan cerita klien 'untuk lini kisah kepribadian kejuruan, penyesuaian karir dan tema kehidupan.
Kebanyakan individu, tanpa memandang status sosial-ekonomi, dapat menemukan kesempatan dalam pekerjaan mereka baik mengekspresikan diri mereka dan penting bagi komunitas mereka. Namun, daripada memilih di antara pilihan yang menarik, beberapa individu mungkin harus mengambil satu-satunya pekerjaan yang tersedia bagi mereka, sering kali pekerjaan yang menyiksa pada jiwa manusia karena tugasnya sulit, membosankan, dan melelahkan. Namun demikian, pekerjaan yang mereka lakukan dapat berarti bagi mereka dan penting bagi mereka masyarakat. Bekerja dengan klien yang beragam dalam budaya bermacam-macam di seluruh dunia, teori karier konstruksi dapat digunakan untuk membantu individu yang paling membuat makna lebih dalam dan lebih luas cakupan dalam pekerjaan sehari-hari mereka serta membantu mereka untuk menemukan cara yang lebih baik untuk menerapkan diri mereka -konsep dan memajukan proyek-proyek kehidupan mereka meskipun masa lalu yang menyakitkan dan hambatan sosial untuk adaptasi karir.

D.    Teori Kompromi
Menurut Steven (2005) teori batasan dan kompromi ini berpusat pada bagaimana remaja secara bertahap memahami dan menghadapi persiapan untuk memilih pekerjaan yang tersedia di masyarakat. Teori ini dapat digunakan sebagai garis besar dari sistem bimbingan dan konseling karir untuk memudahkan perkembangan dan mengurangi resiko selama masa-masa sekolah.  Sistem ini juga bisa digunakan untuk memperkirakan dan mengatasi masalah-masalah pemilihan jurusan yang umum pada masa remaja dan membantu orang dewasa yang berharap untuk meninjau kembali pilihan karir mereka. Beberapa remaja akan mengetahui bahwa pekerja-pekerja sungguh-sungguh bekerja, kadang-kadang pekerjaan tersebut sesuai keinginan pekerja. Beberapa pekerja terpaksa menerima pekerjaan tersebut walaupun tidak sesuai dengan minat mereka.
Kompromi adalah proses di mana seseorang mulai melepaskan alternatif yang paling disukai tapi kurang sesuai. Ketika pertimbangan manfaat alternatif yang relatif lebih menarik dalam ruang sosial individu, maka proses ini disebut pilihan kejuruan. Ketika dipaksa untuk memilih diantara minimal satu pilihan yang dapat diterima,hal ini mengarah pada kompromi. Ketika dipaksa mempertimbangkan alternatif yang tidak dapat diterima, kompromi terasa menyakitkan dan tampaknya tidak lagi soal pilihan, tetapi hambatan dalam memilih.
Ada 3 faktor yang difokuskan dalam proses kompromi :
1.      Alasan remaja kurang mengetahui tentang aksesibilitas dari pekerjaan yang mereka pilih.
2.      Bagaimana perilaku mereka sendiri menambah atau mengurangi aksesibilitas yang sebenarnya
3.      Dimensi kesesuaian orang-pekerjaan yang paling tidak ingin dilepaskan ketika mereka harus puas dengan alternatif yang kurang disukai atau tidak dapat diterima
Bagaimanapun juga, kesempatan individu  juga tergantung pada perilaku mereka sendiri. Pertama, pekerjaan dan program-program pelatihan secara efektif tidak dapat diakses ketika individu mengabaikan dan bagaimana cara mengikutinya.  Orang-orang belajar lebih banyak dan memperluas pilihan-pilihan mereka ketika mereka aktif mencari informasi, tidak hanya menjadi konsumen pasif. Kedua, pekerjaan dapat menjadi lebih mudah ketika orang-orang mengambil tindakan untuk membuat mereka lebih kompetitif dibandingkan dengan pelamar lainnya, misalnya, dengan mendapatkan pengalaman yang relevan atau pelatihan tambahan. Mereka lebih meningkatkan kesempatan mereka ketika mereka secara aktif menggalang dukungan atau bantuan dalam mengejar tujuan-tujuan mereka.
Individu-individu sangat berbeda dalam ciri-ciri pribadi yang mendorong eksplorasi, optimisme, dan ketekunan, terutama dalam menghadapi oposisi dan kekalahan, tetapi semua individu telah berada dalam kekuasaan mereka untuk meningkatkan pilihan mereka. Singkatnya, proses kompromi merupakan wadah lain penciptaan diri, baik memutuskan untuk bertindak ataupun tidak bertindak.

E.     Teori Belajar Sosial
Menurut Bandura, Hackett dan Bitz  dalam Suherman (2013:53) berpendapat bahwa keputusan yang tepat tentang kemampuan diri sendiri biasanya diperoleh melalui perbandingan gambaran kemampuan yang satu dengan yang lain. Pendapat ini sesuai dengan Okiishi yang dikutip Suherman (2013:53) bahwa ada pengaruh dari orang lain yang berarti terhadap individu dalam perencanaan dan pemilihan karir. Artinya ada pengaruh ligkungan dalam pengambilan karir individu.
Menurut Mitcell dan Krumboltz dalam Suherman (2013:53) terdapat 4 kategori faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan karir, yaitu:
1.      Bawaan genetik dan kemampuan-kemampuan khusus
2.      Kondisi-kondisi dan peristiwa lingkungan
3.      Pengalaman-pengalaman belajar
4.      Keteramilan-keterampilan dalam menghadapi tugas
Kemampuan penting dalam pengambilan keputusan karir sebagai berikut:
1.      Mengenai situasi keputusan yang penting
2.      Menentukan keputusan apa atau tugas yang dikelola atau realistis
3.      Memeriksa dan menilai secara cermat dan generalisasi observasi diri dan generalisasi pandangan atas dunia
4.      Menyusun alternatif yang luas dan beragam
5.      Mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang alternatif-alternatif itu
6.      Menentukan sumber informasi yang handal, cermat dan relevan
7.      Merencanakan dan melaksanakan urutan langkah-langkah pengambilan keputusan

Prosedur yang digunakan konselor dalam proses konseling dari teori belajar sosial adalah sebagai berikut :
1.      Penguatan (reinforcement) ; membantu klien dalam hal penyelesaian tujuan dari konseling karir yaitu alternatif karir yang tepat.
2.      Penggunaan peranan model (role model) ; bertindak sebagai model atau menyediakan model peran terhadap mereka. Dengan menggambarkan cara mengambil keputusan yang tepat dan strategi pembuatan keputusan yang efektif.
3.      Simulasi (simulation) ; klien mensimulasikan suatu pengalaman karir.

Tujuh langkah pengambilan keputusan karir menurut Krumboltz dalam Suherman (2013: 55) yang disingkat DECIDES, yakni :
1.      Define the problem (mendefinisikan masalah)
Tujuannya adalah memperjelas masalah konseli dengan konselor juga untuk mencapai kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.
2.      Estabilish an action plan (membuat rencana kegiatan)
Konseli membuat resolusi karir dan belajar menentukan pembuatan proses yang akan dilakukan
3.      Clarify Values (mengklarifikasi nilai)
Konselor mendiskusikan nilai konselinya dengan belajar dari pengalaman yang lalu, membandingkan nilai tes dengan pengalaman yang nyata dalam pekerjaannya.
4.      Indetify alternative (mengidentifikasi pilihan)
Konselor memerlukan penilaian diri, penelitian turunan tentang kepentingan dan kedudukan, selebaran dan pengalaman.
5.      Discover probable outcome (menemukan dampak-dampak masalah)
Konselor tidak memberikan pengaruh yang berlebihan kepada konseli yang akan dicapai.
6.      Eliminate alternatives systematically (mengeliminasi beberapa alternatif secara sistematis)
Konselor mengelomokkan berbagai alternatif yang mempunyai kesamaan karakter, dan kemudian menghapuskan alternatif terakhir jika individu tidak bisa memutuskan diantara dua pilihan
7.      Start action (mulai bertindak)
Ketika pilihan sudah dibuat kemudian individu mulai menentukan langkah konkret untuk mencapai tujuan pekerjaan.
Teori ini tidak begitu memperhatikan penggunaan testing dalam konseling karir, akan tetapi menjadi bagian penting dari beberapa teori perkembangan karir lainnya. Keyakinan konseli adalah bagian integral dari proses pembuatan keputusan karir.

F.     Teori Kepribadian
Teori kepribadian dalam memandang pekerjaan adalah sebagai ekspresi kepribadian. Menurut Gibson (2011:460) banyak perilaku pencarian karir merupakan sebuah pertumbuhan dari upaya-upaya untuk menyesuaikan karakteristik individu dengan bidang kerja tertentu.
John Holland merupakan tokoh yang mempresentasikan teori kepribadian dalam bidang bimbingan pekerjaan yakni tentang tipe kepribadian dan model lingkungan. Holland dalam Suherman (2013:46) menyatakan bahwa ketika seseorang menemukan karir yang cocok dengan kepribadiannya, maka ia akan menikmati dan bertahan lama dalam pekerjannya. Sebaliknya ketika individu tidak menemukan karir yang cocok dengan kepribadiannya, maka ia tidak akan menikmati dan bertahan lama dalam pekerjaanya.
Konsep yang mendasari pemikiran Holland dalam Gibson (2011:461) adalah :
1.      Pilihan kerja merupakan ekspresi kepribadian
2.      Inventori minat merupakan inventori kepribadian
3.      Stereotip pekerjaan bisa digunakan, makna psikologis dan sosiologis sangat penting
4.      Anggota suatu pekerjaan memiliki kepribadian yang mirip dan sejarah perkembangan pribadi yang mirip
5.      Individu cenderung merespon banyak situasi dan problem dengan cara yang sama, maka dari itu mereka cenderung menciptakan lingkungan antar pribadi yang khas
6.      Kepuasan kerja, stabilitas dan prestasi bergantung pada kongruensi antara kepribadian dan lingkungan dimana individu bekerja

Holland membagi kepribadian dalam 6 kategori seperti yang ada dalam tabel berikut:
Tipe realistik :
·         Menyukai pekerjaan yang realistik seperti mengutak-atik mesin mobil, pesawat terbang, penyurvei, petani, ahli listrik.
·         Memiliki kemampuan mekanik namun kadang-kadang kurang memiliki kekurangan keterampilan sosial.
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Asosial
Menyesuaikan diri
Terus terang
Apa adanya
Keras kepala
Tidak fleksibel
Materialistik
Alamiah
Normal
Gigih
Praktis
Cukup diri
Hemat
Tidak punya ide
Sulit mau terlibat
Tipe investigatif:
·         Menyukai pekerjaan seperti biolog, ahli kiimia, fisikawan, antropolog, geolog, dan teknologi medis
·         Memiliki kemampuan matematis dan ilmiah, namu sering kurang punya kemampuan kepemimpinan
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Analaisis
Berhati-hati
Kompleks
Klinis
Penuh ingin tahu
Independen
Intelektual
Instrospektif
Pesimis
Tepat
Rasional
Antisipatif
Mengundurkan diri
Tidak berprasangka
Tidak populer
Tipe artistik :
·         Menyukai pekerjaan seperti komposer, musisi, sutradara, penulis, dekorator, artis, interior
·         Memiliki kemampuan artistik seperti menulis, bermusik, atau bentk seni lainnya
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Rumit
Tidak teratur
Emosional
Ekspresif
Idealistik
Imajinatif
Tidak praktis
Impulsif
Independen
Introspektif
Intuitif
Tidak mudah sepakat
Terbuka
Orisinil
Sensitif
Tipe sosial :
·         Menyukai pekerjaan seperti guru, pekerja rohani, konselor, pekerja sosial, psikiater/psikolog klinis, terapis, dokter, perawat.
·         Memiliki keahlian dan talenta sosial yang tinggi, namun sering punya kurang kemampuan mekanik dan ilmiah
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Berpengaruh
Kooperatif
Empatik
Ramah
Murah hati
Siap menolong
Idealistik
Baik hati
Sabar
Persuasif
Bertanggung jawab
Mudah bergaul
Bijak
Penuh pengertian
Hangat

Tipe pengusaha :
·         Menyukai pekerjaan seperti sales, manajer, eksekutif bisnis, produser tivi, promotor olahraga, pialang saham, pekerja iklan
·         Memiliki kemampuan memimpin dan fasih bicara namun sering kurang punya kemampuan ilmiah
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Ambisius
Berjiwa petualang
Mudah sepakat
Tidak pernah merasa cukup
Mendominasi
Penuh semangat
Riang
Mencari
Ekshibisionistik
Ekstrover
Suka merayu
Optimis
Percaya diri
Mudah bergaul
Enak diajak bicara
Tipe konvensional :
·         Menyukai pekerjaan yang konvensional seperti penjaga toko, stenografer, pustakawan, analisis finansial, bankir, pengestimasi biaya, ahli pajak.
·         Memiliki kemampuan matematis namun sering kurang punya kemampuan artistik
·         Memiliki karakteristik sebagai berikut :
Cermat
Menyesuaikan diri
Penuh kesadaran
Defensif
Efisien
Tidak fleksibel
Pandai menahan diri
Metodis
Patuh
Teratur
Gigih
Praktis
Sopan
Hemat
Tidak imajinatif
Pada dasarnya asumsi teori Holland dapat diringkas sebagai berikut:
1.      Individu dapat dikategorikan sebagai salah satu dari 6 tipe di atas
2.      Terdapat 6 jenis lingkungan pula seperti yang sudah disebutkan diatas
3.      Manusia mencari lingkungan pekerjaan yang akan memungkinkan mereka untuk melatih keterampilan dan bakat, mengekspresikan sikap dan nilai mereka, mengatasi problem dan peran yang disetujui, dan menghindari yg tidak disetujui
4.      Perilaku seseorang bisa dijelaskan lewat interaksi kepribadian dan lingkungannya.
Teori kepribadian lainnya dikembangkan oleh Anne Roe yang didasarkan pada teorinya Maslow mengenai hirarki kebutuhan manusia. risetnya Roe mempercayai bahwa struktur krbutuhan individu sangat dipengaruhi oleh pengalaman awal kanak-kanak individu. Pada gilirannya akan mempengaruhi kategori pekerjaan yang akan dipilih individu. Pengembangan delapan kelompok pekerjaan menurut Roe adalah:
1.      Layanan
2.      Kontak bisnis
3.      Oraginisasi
4.      Teknologi

5.          Aktivitas luar ruangan
6.          Sains
7.          Budaya
8.          Seni dan hiiburan 



BAB III
SIMPULAN

Sejalan dengan pemikiran di atas maka dapat disimpulkan bahwa teori kognitif dalam karir. Teori konstruktivisme daam karir. Teori ekonomi dalam karir. Teori belajar sosial dalam karir yaitu ada pengaruh ligkungan dalam pengambilan karir individu. Teori kompromi dalam karir  merupakan wadah lain penciptaan diri, baik memutuskan untuk bertindak ataupun tidak bertindak. Yaitu manakala individu dihadapkan pada dua pilihan yang mengharuskan dia memilih satu pilihan yang tidak dia sukai tapi dia memiliki potensi di dalamnya ini yang dinamakan kompromi. Teori kepribadian menekankan bahwa manusia dalam memutuskan arah karirnya sebaiknya sesuai dengan karakteristik kepribadiannya.
Dapat disimpulkan bahwa beberapa teori yang sudah dibahas di atas memiliki sejumlah implikasi bagi klien dengan kebutuhan pengembangan karir:
1.      Konselor harus paham proses dam karakteristik perkembangan manusia seperti kesiapan belajar dan keberhasilan penyelesaian tugas-tugas tertentu di tahap perkembangan tertentu
2.      Konselor harus paham kebutuhan dasar manusia selain kebutuhan khusus individu dan hubungan mereka dengan pengembanga karir dan pengambilan keputusan
3.      Konselor mesti sanggup melakukan asessmen beragam kebutuhan klien terkait karir
4.      Konselor membantu klien memahami kalau faktor-faktor yang tidak tampak atau kebetulan sesekali dapat mengubah rencana karir yang sudah dibuat
5.      Konselor harus paham kalau perubahan cepet dunia kerja dan hidup di era globalisasi ekonomi dan teknologi tinggi akan membutuhkan pengujian terus menerus dan pembaruan teori dan riset yang digunakan sebagai basis konseling karir kita
  

DAFTAR PUSTAKA

Gibson, Robert L. 2011. Bimbingan dan Konseling : Edisi Ketujuh. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Steven D. Brown Robert W. Lent. 2005. Career Development and Counseling : Putting Theory and Research to Work. John Wiley & Sons, Inc.

Suherman AS, Uman. 2013. Bimbingan dan Konseling Karir : Sepanjang Rentang Kehidupan. Bandung : Rizqi Press


nafi ahmed write